![]() |
| http://www.timur-angin.com |
Tidak bisa dipungkiri
bahwa dengan membaca buku kita bisa memperoleh banyak keuntungan. Dalam hal
intelektual tentu saja kita memperoleh kekayaan berupa pengetahuan. Terdapat pendapat bahwa dengan begitu bisa meningkatkan jati diri kita di lingkungan
sosial. Atau setidaknya membaca dapat membantu kita untuk mengisi waktu luang. Karena
membaca adalah diam yang paling berguna. Namun, bagi seorang konselor, perlu
kita pahami, bahwa fungsi buku tidak sebatas menambah pengetahuan atau sekedar mengisi waktu.
Tujuan mendasar dari membaca hendaknya untuk
penemuan diri sendiri dan menguasai ilmu pengetahuan yang berguna, tepat dan
bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Buku- buku seperti ini menguatkan,
memperhalus, dan mempermulia karakter para pembacanya. Dengan begitu
diperkenalkanlah metode “Biblioterapi”, yang merupakan salah satu kategori dari
Rational Emotive Kognitif Terapi.
Biblioterapi berasal dari kata biblion
dan therapeia. Biblion berarti buku atau bahan bacaan, sementara therapeia
artinya penyembuhaan. Jadi, biblioterapi dapat dimaknai sebagai upaya penyembuhan
lewat buku. Bahan bacaan berfungsi untuk mengalihkan orientasi dan memberikan
pandangan-pandangan yang positif sehingga menggugah kesadaran penderita untuk
bangkit menata hidupnya.
Biblioterapi telah dikenal sejak
zaman Yunani Kuno. Ide pemanfaatan bahan bacaan sebagai media terapi pada zaman
itu tak dapat dilepaskan dari Plato., meskipun metode ini dikembangkan oleh para
ahli di Inggris. Menurutnya, orang dewasa sebaiknya menyeleksi cerita dan kisah
yang diperdengarkan pada anak-anak mereka sebab hal itu dapat menjadi model
cara berpikir dan budi pekerti anak di masa-masa selanjutnya.
Menurut salah seorang biblioterapis yang juga
seorang pustakawan, Catherine Morris, Biblioterapi ditujukan bagi penderita
depresi dan kegelisahan ringan. Metode terapi ini juga sangat dianjurkan, terutama
bagi para penderita yang sulit mengungkapkan permasalahannya secara verbal.
Dalam penerapan biblioterapi konseli sebaiknya
melewati tiga tahapan berikut ini:
- Identifikasi, konseli mengidentifikasi dirinya dengan karakter dan peristiwa yang ada dalam buku, baik yang bersifat nyata atau fiksi. Bila bahan bacaan yang disarankan tepat maka konseli akan mendapatkan karakter yang mirip atau mengalami peristiwa yang sama dengan dirinya.
- Katarsis, konseli menjadi terlibat secara emosional dalam kisah dan menyalurkan emosi-emosi yang terpendam dalam dirinya secara aman (seringnya melalui diskusi atau karya seni).
- Wawasan Mendalam (insight), setelah katarsis konseli (dengan bantuan pembimbing) menjadi sadar bahwa permasalahannya bisa disalurkan atau dicarikan jalan keluarnya. Permasalahan konseli mungkin saja dia temukan dalam karakter tokoh dalam buku sehingga dalam menyelesaikannya dia bisa mempertimbangkan langkah-langkah yang ada dalam cerita buku.
Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari metode biblioterapi ini. Namun sama
halnya dengan metode lain, biblioterapi ini memiliki beragam kekurangan. Seperti
minat membaca klien yang rendah, atau kesulitan menemukan buku yang besangkutan
dengan permasalahan klien. Meskipun begitu,
kembali lagi pada kemampuan konselor dalam memaksimalkan tugasnya.
Sumber :


0 komentar:
Posting Komentar