Oleh : Faya Largue Katili
![]() |
| Dokumentasi : Eka Rahmayani |
Bandung- Sejak berdirinya, Lembaga Sahabat Konseling
Mahasiswa (LSKM) mulai aktif dalam melakukan programnya. Salah satu yang paling
utama ialah melakukan bimbingan konseling sebaya kepada mahasiswa UIN Sunan
Gunung Djati Bandung. Sebagaimana yang dilakukan oleh Faya Largue Katili, yang
merupakan salah satu difisi sumber daya Konselor di LSKM.
Kegiatan ini berlangsung pada tanggal Rabu, 20
Desember 2016. Konseling dilakukan pada mahasiswi jurusan
Pendidikan Kimia semester lima yang bernama Anggun Syafaresti. Permasalahan yang dihadapi Anggun ialah “Kurang
Percaya diri akibat Indeks Prestasi menurun”. Sehingga konselor menggunakan
metode Rational Emotive (RET) dalam
praktek konselingnya.
Berikut Penjelasan dan Prosedur lengkapnya :
ANALISIS
A. Masalah
yang di Hadapi Konseli
Anggun Syafaresti yang berumur 20 tahun,
ia sering menyalahkan diri yang merupakan inti sebagian besar gangguan
emosionalnya, seperti pada Anggun yang mengalami ketidakpercayaan diri ketika
indeks prestasinya menurun secara drastis, yang berakibat pada penyalahan diri
secara terus menerus mengganggu pola hidup sehat baik berpikir dan bertindak.
B. Teori
Konseling yang digunakan.
Konseling yang digunakan adalah Rasional
Emotif Therapy (RET), Konseling atau pendekatan ini cukup efektif guna menyelesaikan
masalah Anggun karena pendekatan ini memberikan dorongan untuk membebaskan diri dari gejala tidak
percaya diri, berpikir, beremosi, dan bertindak yang irasional. RET menunjukkan
bagaimana konseli mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikapnya serta
menunjukkan serara kognitif bahwa konselee harus lebih rasional dalam melakukan
sesuatu. Konseli di tantang untuk mengembangkan filsafat hidup rasioanl agar
tidak menjadi korban keyakinan ketidakpercayaan diri. Kepercayaan diri
merupakan salah satu modal hidup utama untuk menjalani kehidupan yang bahagia,
dengan modal ini individu mampu berinteraksi dengan lingkungan di mana saja
yang ia tempati.
Ada
empat implikasi konseling dalam menghadapi konseli yang mengalami
ketidakpercayaan diri, yaitu:
1. Konseli
yang tidak percaya diri takut gagal dalam konseling, konselor membantu konseli
berpikir konstruktif.
2. Konseli
merendahkan kekuatan dan melebihkan kelemahan, konselor membantu mengembangkan
gambaran kekuatan dan kelemahan konseli secara realistik.
3. Konseli
takut tidak sukses dalam setiap usaha, konselor membantu konseli bahwa untuk
mencapai sukses terdapat tahapan-tahapan yang didalamnya mengandung serangkaian
sukses dan kegagalan yang harus disikapi secara realistik.
4. Konselor
maupun konselee dalam konseling menginginkan sukses dan tidak dihinggapi rasa
gagal.
Pengentasan masalah ini pun tentu akan
berhasil dengan optimal mankala konselor dan konseli melakukan konseling dengan
sungguh-sungguh sehingga ditemukan jalan keluar yang efektif untuk masalah
konselee yang bersangkutan.
C. Teknik-teknik
Konseling yang digunakan
RET
memberikan keluasan pada pemraktek untuk menjadi elektik. Teknik RET yang
esensial adalah mengajar secara aktif-direktif, dan RET juga adalah proses
didaktik yang meneankan metode-metode kognitif.
Teknik-Teknik
konseling yang digunakan untuk mengatasi masalah tersebut :
1. Assertive
training : yaitu Teknik untuk melatih, mendorong dan membiasakan konseli untuk
terus menerus menyesuaikan diri dengan pola perilaku yang diinginkan.
2. Self
modeling: yakni teknik yang digunakan dengan konseli mengadakan komitmen dengan
konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu. Anggun di minta
untuk tetap menghindarkan dirinya dari perilaku negative yaitu menyalahkan diri
sendiri dan menghindari bermalas-malasan.
3. Counter
conditioning : yakni menciptakan suatu kondisi atau situasi tertentu yang
secara potensial merupakan penyebab dari munculnya perasaan negative konseli,
namun situasi itu memberikan keadaan yang rileks kepada konsele itu sendiri. Anggun
yang tidak percaya diri, maka konselor menciptakan suasana baru pada konseli mengendalikan
diri berdasarkan pemikiran-pemikiran rasional bahwa dengan dia berusaha maka
dia dapat merubah IP lebih baik di semester-semester berikutnya.
4. Behavioristik,
seperti :
a. Reinforcement,
yakni teknik yang di gunakan untuk mendorong konseli kearah perilaku yang lebih
rasional dan logis dengan jalan memberikan sesuatu yang menyenangkan konseli,
Anggun di beri pujian bahwa dia mampu bersaing dan memiliki potensi lebih di
banding teman-temannya.
b. Sosial
modeling, yakni teknik yang digunakan untuk membantu perilaku-perilaku baru
pada konseli. Konselor mencoba bagaimana proses Anggun mempersepsi,
menyesuaikan dirinya dan menginternalisasi norma-norma agar tidak merugikan
dirinya sendiri.
c. Imitasi:
yakni teknik yang digunakan dengan
meminta konseli untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku
tertentu dengan maksud melawan perilaku sendiri yang negative.
d. Teknik
bercermin: Konselor mengarahkan konseli untuk berbicara di depan cermin tentang
upaya-upaya yang akan ditempuh kedepannya untuk melakukan perbaikan agar
menghasilkan IP yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Pada kesimpulannya, Konseling RET sangat
berguna untuk menyelesaikan masalah ketidakpercayaan diri akibat nilai indeks
prestasi rendah, karena konseli di ajak berpikir, beremosi, dan bertindak
rasional. Tidak hanya berdiam diri karena merasa tidak percaya diri, dengan
adanya tujuan dan fungsi konseling TRE yang jelas maka masalah itu tentu bisa
terselesaikan sesuai dengan proseduralnya, yang memilki tahapan-tahapan. RE
dapat menciptakan kesehatan mental termasuk keseimbangan emosional pada
seseorang terletak pada diri sendiri bukan dari orang lain,menyadarkan diri
pada konsele. Teknik-teknik yang digunakan adalah self modeling, imitasi,
behavioristik, dan counter conditioning.
Hasilnya,
Anggun Syaferesti lebih optimis untuk meningkatkan Nilai Indeks Prestasinya.
Ditulis oleh : Dede Sri Mulyati


0 komentar:
Posting Komentar